fbpx

Istilah “startup” tentunya sudah sangat familiar di telinga masyarakat saat ini. Tidak hanya di kalangan para millennials saja, bahkan di kalangan orang tua kita pun sudah tidak asing lagi dengan startup.

Selain karena masyarakat yang semakin melek dengan teknologi, juga karena masyarakat luas ini yang secara tidak langsung berperan nyata terhadap perkembangan startup berbasis teknologi ini, bentuk nyatanya adalah masyarakat ini yang memang menjadi target pasar bagi para pelaku startup untuk menggunakan layanannya.

Dari masyarakat itu lah sebuah masalah ditemukan dan dicarikan solusinya oleh perusahaan startup. Kemudian perusahaan akan menerima feedback/masukan secara berkala untuk perbaikan layanan kedepannya.


Jumlah startup di Indonesia kini semakin banyak, dan terus bertambah setiap tahun.

Sumber gambar : Dokumentasi pribadi

Dari data yang saya dapat dari portal beritasatu.com bisa dilihat per bulan Februari 2018, Indonesia menduduki peringkat ke 4 sebagai jumlah startup terbanyak, mengalahkan negara-negara lainnya di Asia Tenggara.

Dari 1.705 startup di Indonesia, masing-masing memiliki bidangnya sendiri, seperti di bidang transportasi ada Go-Jek dan Anterin, lalu di bidang travelling seperti Traveloka dan Tiket.com, di bidang pendidikan ada Ruangguru.com, dll. Jumlah ini tentunya akan terus bertambah kedepannya.

Peran Desainer

Dibalik kesuksesan sebuah startup dalam membuat produk yang menyelesaikan masalah di masyarakat. Tentunya, tidak lepas dari peran penting para pekerja kreatif di dalamnya, baik itu dalam proses pembuatan produknya, maupun ketika mempromosikannya.

Karena, agar produk/layanan nya dapat diterima oleh masyarakat, perusahaan harus mengkampanyekan/mengkomunikasikan nya dengan baik. Calon konsumen harus dapat memahami maksud kampanye perusahaan yang banyak dilakukan di ruang publik, misalnya iklan produk berupa billboard, spanduk, poster yang ditempel pada terminal, stasiun, jalan protokol, dll.

Belum dihitung dengan iklan yang dilakukan melalui platform digital seperti instagram, facebook, Tv yang tentunya memiliki karakteristik media dan jenis pengguna yang mungkin berbeda juga, sehingga dibutuhkan visualisasi dan bahasa yang berbeda.

Nah, jika perusahaan tidak memiliki divisi khusus yang menangani bidang kreatif ini, maka akan sangat sulit bagi perusahaan untuk melakukan kampanye yang tepat sasaran dan membuat visual yang berkualitas.

Desainer Dengan Spesialisasinya

Selain mengurusi visual di berbagai jenis media untuk keperluan kampanye perusahaan, yang juga tidak kalah penting adalah produk dari perusahaan itu sendiri.

Perusahan yang masuk kategori startup ini biasanya adalah perusahaan yang berbasis teknologi, artinya produk utamanya berbentuk digital yaitu aplikasi mobile, software desktop, atau website.

Sumber gambar :  https://unsplash.com/photos/GWkioAj5aB4

Dalam membuat sebuah aplikasi tentunya dibutuhkan tim developer yang handal dalam menuliskan kode-kode pemrograman. Tapi, dibalik itu semua, akan percuma jika tampilan antarmuka pengguna nya (user interface) tidak ramah, dalam arti susah dipahami oleh masyarakat.

Jika itu terjadi, maka masyarakat tidak akan nyaman dengan produk perusahaan dan bukan tidak mungkin masyarakat akan mencari produk aplikasi sejenis yang dibuat oleh startup lain.

Kenyamanan aplikasi bisa dinilai dari layoutnya yang rapih, pemilihan font yang tepat, warna yang enak dilihat mata, aplikasi yang ringan, konsistensi jarak antar elemen, proses yang mudah dalam menyelesaikan sebuah masalah, dll.

Contoh desain aplikasi. Sumber gambar : dokumentasi pribadi

Oleh karena itu, dibutuhkan seorang desainer dengan spesialisasi dibidang User Interface Design, yang biasa disebut sebagai UI/UX Designer. Desainer tipe ini lah yang memahami cara membuat desain aplikasi dengan baik yang dapat digunakan dengan mudah oleh masyarakat.

Sayangnya, di Indonesia saat ini UI/UX Designer bisa dibilang masih sedikit jumlahnya jika dibandingkan dengan Desainer Grafis pada umumnya. Sedangkan kebutuhannya terus meningkat seiring pertumbuhan perusahaan startup di Indonesia.

Contoh kecil saja, ketika saya lulus kuliah desain pada tahun 2017, dari sekian ratus teman seangkatan saya, yang terlihat ada minatnya di bidang User Interface Design masih bisa dihitung jari.

So, kalo kamu anak DKV atau yang saat ini bekerja sebagai desainer grafis, tidak ada salahnya kalo kamu mulai belajar User Interface Design ya, karena Insha Allah skill ini akan selalu relevan dengan perkembangan teknologi kedepannya 🙂