fbpx

Nggak selamanya kok karya mahasiswa itu lebih bermakna, banyak juga orang-orang yang berkecimpung di dunia desain tanpa pendidikan formal tapi tetap bisa membuat karya yang bagus-bagus dan punya makna.

Tapi ini menurut pandangan saya secara umum ya, biasanya desainer grafis dengan latar belakang S1 DKV, karya-karya yang dibuatnya tidak hanya bagus secara visual tetapi juga memiliki makna atau pesan yang ingin disampaikan kepada audience nya.

Dengan kata lain, karya-karya yang dibuatnya tidak serta merta diciptakan dengan asal. Ada banyak pertimbangan ketika desainer tersebut memilih warna, menentukan layout, memilih font yang tepat, menggunakan gaya ilustrasi tertentu, dan lain-lain.

Kok bisa begitu?

Karena pada dasarnya materi yang diajarkan di bangku kuliah, lebih banyak penekanannya kepada teori/pengetahuan desain. Mahasiswa diajarkan membuat sebuah desain dengan menyiapkan rancangan konsepnya terlebih dahulu. Tidak asal membuat desain yang bagus secara visual saja.

Jadi jangan heran, jika mahasiswa DKV memang dituntut untuk lebih bisa meng-konsep sebuah karya desain nya, sehingga karya yang dihasilkan dapat menyampaikan makna/pesan tertentu kepada audience.

Sedangkan untuk praktek menggunakan software, hanya sedikit yang diajarkan di kampus, dan mahasiswa harus rajin berlatih sendiri jika ingin jago dalam hal menguasai software.

Nah sebagai gambaran untuk kamu yang penasaran proses desain mahasiswa DKV seperti apa, coba lihat pembahasan studi kasus dibawah ini,

Sumber gambar : https://goo.gl/r1f4EC & dokumentasi pribadi

Sekilas tidak ada yang salah kan dengan poster diatas? Ya, keduanya memang poster kampanye anti rokok.

Saya juga tidak bilang kalo poster sebelah kiri dibuat oleh desainer yang bukan sarjana, dan poster sebelah kanan adalah sebaliknya, tidak.

Tapi coba lihat perbedaannya, mungkin poster sebelah kiri lebih sering teman-teman jumpai di ruang publik. Tidak ada yang salah memang dengan poster sebelah kiri, tapi mungkin bagi sebagian orang yang melihatnya akan terasa bosan dan kesannya yang “gitu-gitu aja”.

Poster sebelah kiri terlihat standar saja dengan ilustrasi rokok terbakar dengan simbol lingkaran coret berwarna merah, yang menandakan dilarang merokok. Dengan tambahan tulisan besar “NO SMOKING”. Tegas, namun terlihat standar dan biasa.

Sumber gambar : dokumentasi pribadi

Sedangkan poster sebelah kanan menunjukkan konsep yang berbeda dari kebanyakan. Warna hitam sebagai tema yang dipilih untuk menunjukkan kesan misteri, kematian, seram. Lalu ilustrasi dengan menggunakan paru-paru yang digambarkan sedang terbakar pada bagian bawahnya, dan pada bagian atasnya dibuat seperti menyerupai batang rokok. Teksnya pun dibuat sederhana “KEEP SMOKING” – “Until Your Lung Die”.

Ini mempunyai pesan bahwa jika kamu merokok terus setiap hari, itu sama saja membakar paru-paru mu sendiri yang lama kelamaan akan habis terbakar.

Dan teks pada posternya pun berbunyi seperti sarkasme, desainer seperti ingin memberitahu “kalo mau paru-paru kamu cepat mati, yasudah merokok saja terus”.

Ya tentunya desainer ingin audience yang melihat bisa berpikir ulang untuk terus merokok.

Nah, sebagai desainer lulusan S1 DKV, kita dituntut untuk tidak hanya kreatif dalam membuat karya yang dapat menyampaikan pesan/makna tertentu kepada audience yang dituju, tetapi kita juga dituntut untuk memiliki konsep yang baik dalam merancang sebuah karya, tidak asal jadi.

Seperti gambar gunung es dibawah ini, biasanya yang masyarakat tahu hanya hasil finalnya saja, karya-karya yang sudah dipajang di ruang publik/media digital, tanpa tahu dibalik karya desain yang baik, terdapat PROSES panjang dalam pembuatannya.

Sumber gambar : dokumentasi pribadi

Inilah yang dituntut dari seorang desainer S1 DKV, menekankan proses dalam pembuatan sebuah karyanya.

Karya yang dibuat tidak selalu harus bagus secara visual, tapi tentunya kalo kamu bisa buat visual yang bagus dan bermakna, maka akan jadi poin plus untuk kamu

Tapi sekali lagi, ini hanya gambaran secara umum saja, bukan berarti desainer yang tidak kuliah hasil karyanya jelek dan tidak bermakna. Diluar sana banyak sekali desainer yang tidak mengikuti pendidikan formal tetapi hasil karyanya berkualitas, punya makna yang bagus dan tetap bisa menghasilkan.

Jadi kembali lagi kepada masing-masing individu. Rajin mencari sumber ilmu yang dibutuhkan dan sering berlatih adalah kuncinya.