fbpx

Jika kita berbicara mengenai UI Design biasanya tidak terlepas dari istilah UX Design. Kedua hal ini memang saling terkait satu dan lainnya. Orang-orang yang bekerja pada bidang ini umumnya disebut sebagai UI/UX Designer. 

Tidak jarang banyak orang yang menanggap UI/UX Design sesuatu yang sama. Bahkan banyak perusahaan/startup yang membuka lowongan pada bidang ini hampir selalu memberi judul “UI/UX Designer”. Tidak bisa disalahkan memang, karena pada perusahaan/startup yang baru memulai biasanya mereka butuh lebih sedikit orang yang bisa melakukan banyak hal sekaligus demi penghematan anggaran :).

Walaupun istilah ini sering kali disatukan, sebetulnya ini adalah sesuatu yang berbeda. Namun, keduanya memang saling berhubungan dan memiliki keterkaitan.

Lalu, apa perbedaannya?

User Interface Design

UI Design atau yang dalam bahasa Indonesianya adalah Desain Antarmuka Pengguna adalah desain tampilan pada layar dari sebuah aplikasi/website yang dilihat langsung ketika digunakan oleh konsumen.

Contohnya seperti dibawah ini, 

Sumber gambar : Tiket.com

Tiket.com adalah sebuah platform aplikasi mobile dan website yang memudahkan masyarakat dalam hal bepergian, disana kita bisa memesan tiket pesawat, hotel, kereta api, bahkan sampai memesan tiket untuk keperluan hiburan.

Nah, ketika kita membuka website tersebut dan melihat tampilannya yang bagus dengan dominan warnanya biru, serta tertata rapih, itu lah yang disebut sebagai tampilan/antarmuka.

Ranah pada UI Design ini meliputi warna, icon, tipografi, ilustrasi, atau elemen visual lainnya. Tugas UI Designer disini adalah membuat semua komponen tersebut dan menyusunnya agar terlihat baik.

Singkatnya, UI Design ini adalah apa yang dilihat langsung oleh mata pengguna ketika pertama kali mengoperasikan sebuah aplikasi atau website.

User Experience Design

Sedangkan, UX Design atau bisa disebut sebagai Desain Pengalaman Pengguna adalah kepuasan konsumen ketika menggunakan sebuah aplikasi atau website. Sesuatu yang bisa dirasakan, namun tidak terlihat oleh mata.

Misalnya, dengan menggunakan contoh Tiket.com pada pembahasan diatas. Ketika konsumen ingin mencari sebuah tiket pesawat dengan tujuan dan harga tertentu, maka langkah-langkah yang harus dilakukan adalah sebagai berikut.

Langkah Satu – Sumber gambar : Tiket.com

Langkah ke-1 : Setelah membuka halaman Tiket.com, pilih icon pesawat pada menu yang ada ditengah.

Langkah Dua – Sumber gambar : Tiket.com

Langkah ke-2 : Pop up window akan tampil, lalu isi dengan informasi yang ingin dicari, seperti bandara keberangkatan/tujuan, serta tanggal pergi, jumlah penumpang dan detail lainnya. Jika sudah, lalu klik tombol “Cari Penerbangan”.

Langkah Tiga – Sumber gambar : Tiket.com

Langkah ke-3 : Sistem akan menampilkan hasil pencarian dengan informasi yang lengkap, seperti jenis maskapai, jam keberangkatan, durasi penerbangan, harga tiket, sampai kapasitas dari bagasi yang disediakan.

Nah, dari 3 langkah diatas konsumen bisa melakukannya dengan singkat dan bisa menemukan informasi yang dicari dengan mudah, serta informasi yang didapat juga cukup lengkap. Sehingga konsumen puas dan nyaman akan layanan tersebut, maka bisa dikatakan aplikasi/website tersebut memiliki User Experience yang baik.

Untuk menghasilkan User Experience yang baik tentunya dibutuhkan data dari riset yang dikumpulkan dari berbagai sumber, contohnya feedback dari pengguna, rencana bisnis perusahaan kedepannya, analisis perilaku pengguna, masalah yang dihadapai pengguna, dll.

Setelah mendapatkan data, maka akan dilakukan analisis mendalam, yang pada akhirnya akan menghasilkan kesimpulan seperti :

  • Flow/langkah seperti apa yang harus pengguna tempuh dalam mengoperasikan sebuah fitur.
  • Flow/langkah seperti apa yang harus pengguna tempuh dalam menyelesaikan sebuah ‘task’.
  • Fitur apa yang sebetulnya dibutuhkan pengguna dan mana yang tidak dibutuhkan.
  • Fitur apa yang butuh perbaikan atau diperlengkap.
  • Interaksi apa yang cocok diterapkan pada perpindahan halaman tertentu.
  • Apakah elemen visual (UI Design) yang ada sudah berfungsi dengan baik, misalnya ukuran tombol pembayaran terlalu kecil, font tidak terbaca, letak tombol tidak kelihatan.
  • Dst.

Nah, orang-orang yang mengumpulkan data ini biasanya disebut sebagai UX Designer/UX Researcher.


Tidak Hanya Produk Digital

Selain itu, User Experience (UX) sebetulnya tidak hanya berlaku pada produk digital semacam aplikasi/website.

Mungkin sebagian besar kita tidak menyadari bahwa dalam keseharian hidup kita sebetulnya UX sudah diterapkan juga. Contohnya seperti foto dibawah ini,

Sumber gambar : https://goo.gl/qebMRJ

Nah, gambar diatas adalah foto kamar mandi/toilet duduk. Sekilas desainnya bagus-bagus saja kan?

Tapi, coba perhatikan desain pintunya, terlihat terlalu keatas bukan. Ditambah dengan tidak adanya sekat antara kloset yang satu dan lainnya, ini mejadikannya lebih buruk lagi. Ini salah satu alasan menjadikan desain kamar mandi ini bisa dibilang memiliki UX yang jelek

Masyarakat yang menggunakannya mungkin akan berpikir dua kali karena tidak nyaman.

Bagaimana tidak, ketika ada orang yang duduk di kloset tersebut, maka orang sebelahnya sama-sama bisa saling melihat kondisi masing-masing. Bahkan orang diluar pintu tetap bisa melihat mereka yang didalam juga, karena pintunya tidak menutup sempurna.


Hmm… sampai disini sudah paham kan bedanya UI dan UX?

Intinya, User Interface Design berfokus pada tampilan visual apa yang dilihat oleh pengguna.

Sedangkan, User Experience Design adalah bagaimana membuat sebuah aplikasi/website/benda tersebut bisa memberi kenyamanan dan kemudahan sehingga pengguna tidak kebingungan ketika menggunakannya. Sesuatu yang bisa dirasakan, tapi tidak terlihat oleh mata.