fbpx

“Desainer Grafis/Graphic Designer” adalah istilah umum yang biasanya disematkan kepada orang yang baru saja lulus kuliah dari pendidikannya di jurusan DKV (Desain Komunikasi Visual).

Umumnya, seorang desainer grafis sudah mempunyai pengetahuan dan skill yang cukup untuk mengerjakan sebuah project desain, misalnya saja seperti membuat desain logo, poster, banner, branding perusahaan, kemasan makanan, dll.  

Tetapi, tidak sedikit juga desainer grafis yang sudah menemukan bidang spesialisnya sendiri, artinya mereka biasanya akan benar-benar fokus mendalami bidang tertentu saja, contohnya ada yang fokus pada ilustrasi karakter kartun, ada yang lebih senang merancang desain kemasan, atau ada juga yang hanya fokus pada desain tipografi, dll.

Bagi seorang desainer yang baru saja lulus dari kampus, biasanya bisa bekerja langsung di perusahaan yang mebutuhkan atau yang lebih populer bagi sebagian desainer adalah dengan bekerja di sebuah studio desain/design agency.

Setiap harinya desainer tipe ‘umum’ ini bisa jadi akan mengerjakan beberapa project yang berbeda dan bervariasi, tidak hanya satu jenis desain saja, apalagi yang bekerja di studio desain sudah pasti kenyang pengalaman karena klien yang datang silih berganti.


Namun, di era digital saat ini terutama pesatnya perkembangan startup berbasis teknologi di Indonesia, menjadi tantangan baru juga bagi kalangan desainer grafis.

Sumber gambar : https://unsplash.com/photos/AJCNM8JrzT8

Sebuah startup berbasis teknologi pada umumnya mempunyai produk berbentuk aplikasi mobile atau website. Yang sudah pasti cara konsumen berinteraksi dengan produknya adalah dengan sebuah tampilan antarmuka (user interface) yang ada pada layar gadget mereka.

Tentunya kenyamanan konsumen menggunakan produk aplikasi/website tersebut merupakan sebuah hal penting yang harus diperhatikan oleh perusahaan startup. Karena, jika konsumen tidak nyaman atau kesulitan menggunakannya bukan tidak mungkin mereka akan pindah ke produk sejenis lainnya.

Kenyamanan konsumen bisa dilihat dari banyak faktor, misalnya saja layout tampilan yang rapih, warna yang tidak membuat pembacanya cepat lelah, jenis font yang mudah dibaca, alur menyelesaikan sebuah tugas yang tidak rumit, dll.

Nah, untuk membuat tampilan sebuah aplikasi/website yang baik tentunya dibutuhkan seorang desainer yang memahami dan memiliki ilmunya dalam merancang desain tampilan antarmuka (user inteface). Sehingga produk tersebut bisa diterima dengan baik oleh masyarakat.

Desainer pada spesialisasi ini biasanya disebut sebagai UI/UX Designer. Dengan semakin banyaknya perusahaan startup berbasis teknologi bermunculan di Indonesia. Para desainer grafis mulai sadar akan kemampuan UI/UX Design yang semakin dibutuhkan di industri saat ini, dan melihat potensi yang bagus kedepannya.


Bagi sebagian orang, bisa dibilang profesi UI/UX Designer ini cukup menjanjikan dibanding menjadi desainer grafis biasa. Apa alasannya?

Gaji Lebih Besar

Ya, profesi UI/UX Designer ini rata-rata digaji dengan nominal yang cukup besar dibandingkan dengan desainer grafis biasa. Ini dimungkinkan karena desainer yang menekuni bidang ini masih terbilang sedikit jumlahnya.

Bidang ini juga berkaitan erat dengan dunia teknologi, sehingga seorang UI/UX Designer dituntut untuk terus mengikuti perkembangan teknologi yang selalu cepat berubah setiap waktu. 

Selain itu, profesi UI/UX Designer tidak hanya bicara soal visual saja, justru yang lebih penting dalam perancangan desain aplikasi ini adalah pada tahap risetnya.

Untuk membuat aplikasi yang baik, data adalah elemen penting yang membuat produknya bisa relevan dengan kondisi calon konsumen.

Setelah produknya jadi pun, bukan berarti tugas seorang UI/UX Designer selesai, produk aplikasi/website ini selalu membutuhkan perbaikan, karena kondisi masyarakat yang selalu berubah, dan juga teknologi yang semakin berkembang.

Dengan banyaknya alasan-alasan diatas, menjadi hal wajar jika profesi ini umumnya digaji lebih tinggi.

Berikut ini saya lampirkan contoh lowongan pekerjaan untuk UI/UX Designer per November 2018, di platform Tech In Asia,

Sumber gambar : https://goo.gl/wDUYt2

Rata-rata gajinya bisa mencapai 10jt lebih, dengan start awal yang rata-rata lebih besar dibanding Graphic Designer. Untuk startup yang sudah besar, tentunya lebih besar pula gajinya.

Untuk beberapa perusahaan atau posisi yang lebih spesifik lagi bahkan rate gajinya bisa lebih tinggi lagi, seperti daftar dibawah ini.

Sumber gambar : https://goo.gl/wDUYt2

Bandingkan dengan posisi Graphic Designer, yang start awal gajinya rata-rata lebih rendah, dan tidak ada yang lebih dari 10jt pada daftar ini.

Sumber gambar : https://goo.gl/8nbHKK

Yang ada pada daftar diatas-pun contoh dari perusahan startup, bukan dari perusahaan umum yang relatif jumlahnya lebih banyak.

Tentu saja tidak bisa dipukul rata semua UI/UX Designer mendapat gaji lebih tinggi. Karena tergantung juga pada pengalaman yang dimiliki, jenis perusahaannya, lokasi perusahaan, dll.

Mungkin di beberapa kondisi bisa jadi Graphic Designer mendapat gaji yang lebih tinggi juga. Karena mau bagaimanapun posisi ini tetap penting dan dibutuhkan di setiap lini industri.

Mengikuti Perkembangan Teknologi

Sebetulnya menjadi Graphic Designer pada umumnya juga pastinya harus mengikuti perkembangan zaman juga, dengan media visual yang bisa berubah-ubah setiap saat.

Teknologi – Sumber gambar : https://unsplash.com/photos/OwvRB-M3GwE

Namun, bidang user interface design ini memang menawarkan sesuatu hal yang baru, yang kebetulan relevan sekali dengan perkembangan startup teknologi saat ini.

Didalamnya banyak sekali cabang-cabang ilmunya yang lebih spesifik, seperti UX Research, Interaction Design, UX Writer, dll. Sehingga bidang ini cukup menarik untuk ditekuni, seakan menjadi primadona baru di kalangan Graphic Designer.

Hanya saja jumlah UI/UX Designer di Indonesia bisa dibilang jauh lebih sedikit dibanding Graphic Designer pada umumnya.

Spesialisasi Dalam Desain

Tidak bisa dipungkiri bahwa seiring berjalannya waktu, setiap Graphic Designer pada akhirnya akan menemukan bidang spesialisasinya masing-masing. Akan timbul kecenderungan untuk fokus menekuni bidang desain tertentu saja.

UI Design – Sumber gambar : https://unsplash.com/photos/k4rXG_9zCbY

Hal ini dikarenakan pada awal berkarir sebagai desainer, biasanya desainer tersebut terbiasa mengerjakan banyak jenis project desain, baik itu secara freelance atau pekerjaan di kantor. Pada saat itu lah biasanya menjadi masa pencarian jati diri.

Nah, di era digital saat ini, tidak ada salahnya memilih bidang UI/UX Design sebagai spesialisasinya, selain karena sesuai dengan perkembangan teknologi, tetapi juga karena jumlah desainer di bidang ini yang masih terbilang sedikit. Sehingga peluangnya masih cukup besar.


Bukan berarti profesi Graphic Designer menjadi tidak penting, tentu saja semuanya punya bagiannya masing-masing.

Tapi, setidaknya dengan pembahasan ini, saya ingin memberi gambaran bagi kalian yang ingin beralih profesi menjadi UI/UX Designer yang ternyata potensinya cukup menjanjikan juga 🙂

So, tunggu apa lagi, kesempatan buat kamu terbuka lebar 🙂