Hujan datang, dan bersamanya datang pula segala yang kukira telah selesai.
Ada yang turun dari langit, ada yang turun dari ingatan, dan keduanya jatuh di tempat yang sama: dada yang lama tak diketuk. Bedanya, hujan di luar akan reda, sedang yang di dalam hanya bergeser menjadi gerimis yang lebih sabar.
Betapa pandai hujan menamai ulang segala. Ia menjadikan rindu sebagai wangi tanah, menjadikan sunyi sebagai bunyi, menjadikan nama yang lama kusimpan sebagai tetes yang tak bisa kutadah. Apa yang di hari terang bisa kupungkiri, di bawahnya mengaku sendiri.
Kau pernah menjadi alasan hujan terasa indah. Kini kau menjadi alasan ia terasa panjang. Begitulah cinta yang belum selesai: ia tak menghapus musim, hanya mengubah makna cuaca. Yang dulu teduh menjadi basah, yang dulu basah menjadi lega, lalu lega itu perlahan belajar menjadi lelah.
Hujan memang tak pernah salah alamat. Ia jatuh tepat di bagian diri yang masih hidup, di bagian yang belum sempat kering. Maka tiap kali ia datang, yang basah bukan hanya bumi, melainkan juga janji-janji yang pernah dititipkan pada musim yang sama.
Ada kehilangan yang tak pernah benar-benar bersih. Ia meninggalkan bentuknya, seperti cetakan yang tetap menyimpan lekuk benda yang telah diambil. Dan di lekuk itu hujan berkumpul, mengendap, menjadi telaga kecil yang tak pernah kering. Di sana kau masih bercermin, tak terlihat, tapi tak pernah benar-benar pergi.
Barangkali hujan bukan sekadar datang. Ia pulang. Pulang kepada tanah, kepada akar, kepada segala yang menunggunya. Dan aku, yang menunggu entah apa, hanya belajar menerima bahwa sebagian rindu memang diciptakan untuk jatuh, bukan untuk dipegang.
Bila hujan ini juga sampai di tempatmu, semoga ia datang sebagai sejuk, bukan sebagai ingatan. Dan bila ia datang sebagai ingatan, semoga kau tahu, ada satu nama yang ikut gerimis di dalamnya, tak minta dikenang, hanya ingin kau tahu ia masih turun.
Hujan Datang
Audio Latar
|